Sabtu, 01 Februari 2014

Merah Marun #part-1



Pagi itu.. aku bangun lebih pagi dari biasanya, entah apa yang membuatku akhirnya bisa bangun sepagi itu di hari libur –yang selalu seharian kuhabiskan di rumah. Hanya bermain dengan keponakan-keponakan kecilku yang menggemaskan, tidur, nonton tv, yaah.. liburan seolah menjadi ladang bermalas-malas diri, seolah menjadi jam istirahat yang terakumulasi dari hari-hari kerja yang slalu melelahkan.

Bangun tidur, aku tergerak untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri (read : mandi). Mandi pagi..? haha.. entah angin apa yang menggerakanku untuk melakukannya, padahal biasanya di hari libur seperti ini aku paling malas untuk mandi. Hanya mandi ketika akan pergi-pergian saja, sedangkan hari itu aku tak berniat pergi kemanapun tapi seolah ada hal lain yang tiba-tiba menggerakan gayung berisi air untuk melumuri diri ini begitu saja.         

Selesai mandi, aku berniat untuk bersantai dengan masker bengkoang. Kusiapkan mentimun untuk menutupi mata –besar coklat indah– ku, mentimun yang begitu segar, lalu kusiapkan pula sleeping bag, tape-recorder juga kaset lagu-lagu klasik yang akan mengiringi ritual maskeranku pagi itu. Setelah siap semua peralatan, akupun keluar menuju balkon –kebetulan kamarku (yang kini jadi milik keponakanku) ada dilantai dua– dan menggelar bed cover tersebut tepat di posisi yang begitu nyaman, terkena sinar mentari pagi yang menyehatkan, mengubah pro-vitamin D menjadi vitamin D.. itu yang slalu ku ingat tentang mentari pagi J

Dengan seketika, berpindahlah semua peralatan ritual maskeranku dari kamar ke balkon. Bersiap untuk berbaring, hmm… pelan-pelan ku rebahkan diri ini di atas bed cover yang begitu lembut dan wangi –kebetulan baru di laundry kemaren.. hehe– “oow.. ada yang lupa!”, akupun kembali ke kamar. Kalian tau apa yang kulupakan..? aku lupa mengganti air di vas bunga –sedap malam–ku. Akupun mengganti air di vas, lalu kucium bunga kesayanganku itu, hmm… wangi… tak lama kemudian tiba-tiba kudengar hapeku berbunyi.. waah… ada sms!
Perlahan kulihat layar hapeku dan seketika itu pula aku tersenyum girang melihat nama yang tertera di layar, ‘gumi bebi’. Waah… akhirnya anak itu sms juga! Heu… bahagianya.. tanpa ragu, akupun langsung membaca pesan singkatnya itu, sangat singkat –seperti biasa.

‘ghis dimana? jalan2 yu’
(tanpa berpikir panjang cepat-cepat ku gerakan jemari ini untuk membalas pesannya)
“Hayu hayu! Lg d rumah.. mu kMna emg?”
Beberapa detik kemudian hapeku bunyi lagi
‘jalan2 aja, k 15,poltekpos mungkin polban gimana?’

Hahaha… entah mengapa saat baca smsnya itu aku tertawa.. terbayang wajahnya yang lucu mengekspresikan ajakannya itu. Dia sungguh satu-satunya orang yang mudah mengubah perasaan galauku jadi ceria. Namanya Gumi Fadhil Putera, teman SMA ku yang dijuluki si anak autis.

Gumi orang yang sangat berarti buatku, dia yang mengajarkanku arti persahabatan, membawaku ke dunia out of the box, memperkenalkanku dengan dunia petualangan, sangat mewarnai kanvas-kanvas kehidupanku! Bahkan kadang membuatku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Ia banyak memberikan pengalaman dan ilmu baru buatku, sang motivator juga buatku, sosok yang luar biasa buatku meskipun aneh dan selalu terlihat cuek. Selintas terlihat jelas raut wajahnya yang konyol itu di pikiranku.

Lalu kubalas lagi pesannya.
“haha. .hayu hayu. .skrg jg nh?”

Beberapa detik kemudian belum ada balasan darinya, cukup lama aku menunggu. Dengan penuh rasa girang, aku membereskan segala peralatan yang sudah kusiapkan untuk ritual maskeran itu. Memutuskan untuk memilih bermain bersamanya daripada mengurus kulit mukaku yang sudah tak seputih dulu itu.

Sejak aku main sama gumi bebi –itu panggilanku untuknya– aku tak pernah lagi memperhatikan penampilan, tak peduli sehitam apa wajah ini, sejelek apa penampilanku ketika bermain dengannya, aku benar-benar tak peduli sekalipun harus memakai piyama untuk bermain dengannya.

Selang beberapa detik kemudian, hapeku pun berbunyi lagi, waah.. pasti balesan dari gumi bebi deh.. dan ternyata memang benar
‘ayo deh, ktmu d gor ya, jgn ad apa2 lg ya, lsung brangkat oke, ak tinggal pake clana da hehe’
“Iya sitU tingGal pke clana. .Gw blum pake bju,clana n krudung mas. .oke oke. .10 menit lagi la yah. .”
Lama tak ada balasan darinya, hupt… sudah kuduga sebelumnya pasti ga akan di balas. Dia kan cuek. Haha.. akhirnya akupun bersiap-siap untuk pergi.

Ku ambil baju merah marun dan kerudung senada yang belum ku cuci, baju bekas kemarin.. hehe (maklum ga ada baju lagi, soalnya baju-baju yang kubawa ke rumah untuk liburan hanya sedikit, sisanya ada di kost-an). Lalu ku ambil pula celana jeans yang biasa kupakai ketika main dengannya, ini juga belum dicuci.. haha, maklum… satu-satunya celana yang aku bawa ke rumah.

Setelah sempurna mengenakan baju merah marun, celana jeans dan kerudung yang senada dengan bajunya itu, akupun beranjak keluar kamar dan menyambar tas coklat kecil yang kutaruh di atas lemari baju ponakanku. Akupun mematut-matutkan diri di cermin… hmm cantik! Baju merah marun ini emang cocok dikenakan olehku.. haha narsis!.

Usai bercermin, buru-buru aku menuruni tangga dan mencari sepatu hitamku yang baru saja kucuci, lalu akupun pamit ke bunda dan langsung pergi tanpa mengiyakan pesan bunda yang selalu saja bilang “jangan malem-malem yah pulangnya”. Bosan mendengar kalimat itu setiap aku pergi.

-to be continued-

JAM TANGAN (25 April 2011) #part-3

...

Aku merasakan diriku yang semakin oleng dan mual. Bahkan tubuh ini rasanya sudah benar-benar tidak duduk tegak lagi, total sudah kepala dan tubuhku jatuh kepelukan orang yang ada disampingku, Gumi! Huh.. “plis Gum ga lucu.. gue pusing deh serius..”, kataku memohon. Disebrang sana kudengar Dera pun membelaku “udah Gum, kasian tuh Ghisya.. gimana kalo dia muntah hayoh..? kamu mau ngurus apah??”. 

Mungkin melihat aku yang semakin oleng, akhirnya Gumi mulai menghentikan putaran komedinya. Sedikit demi sedikit komedi ini mulai berputar sewajarnya, semakin pelan, pelan, dan pelan. Namun aku masih oleng! Aku mabuk rasanya..! huhu.. kepala dan tubuhku masih tepat tersandar di dadanya yang bidang. 

Menyadari hal itu, akhirnya Gumi benar-benar menghentikan putaran komedinya dan membiarkan aku sejenak bersandar lebih lama di dadanya yang bidang untuk menghilangkan rasa pusing, mual dan keolenganku. Dan tanpa kuduga hal buruk terjadi. Kalian tahu apa..? aku muntah! Huaah… malu! Takut Gumi marah juga dan ngambek berkepanjangan karna baju yang ia kenakan kini penuh dengan muntahanku. Maafin aku Gum..

Aku tak mampu berkata-kata, muka ini sepertinya mulai memerah (terasa dari mulai memanasnya), pangkal tenggorokanku seolah tercekat, mata mulai berair dan mulut berusaha mengucap kata maaf. “maafin aku Gum..”, permintaan maaf yang lebih mirip sebuah bisikan. Dan yang tak kusangka adalah.. Gumi masih duduk disampingku dan malah ia yang meminta maaf. Tanpa memikirkan bajunya yang penuh muntahku itu, ia langsung memegang mukaku dengan kedua tangan besar lembutnya itu, “maafin gue Ghis.. lo gapapa kan..? ya ampuun”, tuturnya penuh kecemasan. 

Lalu ia mengusap air mataku dengan tissue pemberian Dera (Dera bela-belain lari-lari nyari tissue untuk melap mulutku dan muntahanku di bajunya Gumi), dan juga mengusap sisa muntahan di mulutku dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataan, kulihat sosok Gumi yang berbeda, tak lagi kekanakkan. Ia terlihat begitu mengkhawatirkan keadaanku. “maafin gue ya Ghis..”, kalimat itu kembali terucap dari mulutnya penuh penyesalan. 

“Der, duduk dulu sini jagain Ghisya. Gue mu telpon sopir gue dulu buat jemput kita disini oke?”, pinta Gumi pada Dera. Dera menyanggupi, lalu dengan sabar ia pun mengusap dengan lembut mulutku yang masih belepotan. Juga mengelap komedi putar yang kini kotor oleh muntahanku.

Sejurus kemudian, Gumi kembali dengan membawa air mineral. Lalu duduk disampingku, membuka tutup botolnya dan membantuku minum. “udah baikan kan Ghis..?”, tanyanya yang juga masih terlihat gurat kecemasannya itu. Aku hanya mampu tersenyum dan berkata “lumayan”. “masih pusing..?”, tanyanya lagi. Ku jawab dengan anggukan. “mual..?”, tanyanya lagi, kali ini kujawab dengan senyuman. “maafin gue..”, sesalnya. 

‘Tidiiit tiiiiiiiiit tiiiiiiiit..’, suara klakson mobil Gumi mengagetkan kami, “Alhamdulillah mobil gue dateng tuh. Ayo Der, Ghis.”, ajaknya sambil merangkulkan tangan kananku ke pundaknya dan tanpa komando Dera pun melakukan hal yang sama. Ia merangkulkan tangan kiriku ke pundaknya. Lalu kami berjalan beriringan.

Aroma khas parfum Gumi langsung tercium begitu sang sopir membukakan pintu mobil belakangnya. Aku pun duduk di belakang bersama Dera, Gumi duduk di depan bersama sang sopir. Kemudian Gumi menyodorkan minyak angin pada Dera. Seolah tahu maksud Gumi, Dera langsung menyuruhku tidur berbantalkan pahanya. Ia memijit lembut kedua pelipisku dengan minyak angin yang Gumi berikan itu, lalu menumpahkan beberapa tetes ke telapak tanganku dan menyuruhku mengoleskannya ke perut, katanya untuk menghilangkan rasa mual. 

Aku terharu dengan semua perhatian ini. Huhu.. makasih Der.. makasih Gum.. love u all. Aku berbaring di pangkuan Dera cukup lama, waah.. ia memang benar-benar kebapakan, bisa membuatku begitu nyaman berbaring di pahanya. Dari bawah sini aku bisa memandang wajah Dera yang lembut itu lebih jelas, aku memandangnya cukup lama, entah mengapa rasa sejuk langsung menyergap saat memandangnya. “Ghis.. udah baikan kan..? ga usah ngagumin aku ampe segitunya kali..”, ucap Dera dengan senyum usilnya (ketularan Gumi nih). 

Seketika aku langsung mengubah posisiku, yang asalnya tiduran langsung duduk.. aku udah baikan.. udah ga pusing lagi! Udah ga mual lagi.. waah.. makasih Dera.. makasih Gumi..
“iih apaan sih Der..? lo ketularan Gumi nih”, seruku manja sambil memukul pelan lengannya. Dera hanya menanggapi dengan senyuman. “ciie yang udah sembuh..”, timpal Gumi tiba-tiba sambil melirik ke belakang dan tersenyum jail. “iya.. makasih ya Gum.. Der..”, seruku. “hmm.. tapi baju gue lo yang nyuci yah..!”, timpal Gumi yang mengundang tawa kita bersama. 

Tawa mereda. “eh gue serius lho Ghis! Hahaha”. “oke”, jawabku manyun.

Beberapa menit kemudian, sampailah kami di rumah Gumi. Gumi langsung mengajak kami ke ruang makan, karena di ruang tengah sedang ada tamu dari luar kota (rekan kerja ayah dan ibunya). Gumi merangkulku dan mengajakku melihat lemari es, lalu ia mengambil satu gelas minuman berwarna putih, terlihat seperti susu tapi di atasnya terdapat krim, kemudian mengambil sendok (tanpa melepaskan rangkulan tangannya dari pundakku) dan menyuapiku krim dari minuman itu. “enak ga..?”, tanyanya. “hmm.. enak enak!”, seruku girang. (aku baru kali ini lho di suapin cowo! Ahaha :D ,apalagi ini Gumi yang nyuapin, gimana mungkin rasa minuman itu ga enak?). 

Dera yang sejak tadi hanya memperhatikan dari tempat duduknya –yang tak jauh dari lemari es langsung bertanya “apaan sih Gum..? bagi donk”. “nih tangkap!”, seru Gumi sambil melempar minuman itu “susu kambing”, lanjutnya. What..? Oh My God jadi yang gue makan tadi itu krim susu kambing..? ya ampuun iyuuuh.. aku ga suka kambing! Kambing itu bau! Tapi kok krimnya enak banget yah..? apa karna gara-gara disuapin Gumi? Atau emang rasanya yang enak?

“ooh.. kirain apaan. Ngga jadi deh! Susu murni aja gue ga kuat baunya, apalagi susu kambing.. hmm ga jadi deh makasih”, seru Dera. “iih cobain dulu! Ga bau kok..! krimnya enak tau!”, timpal Gumi “iya kan Ghis..?”, lanjutnya sambil berpaling padaku meminta jawaban. Aku hanya bisa mengangguk. Hey.. aku aja masih kaget! Ini susu kambing, aku kan ga suka kambing! Heu.. tapi emang enak sih.. 

“Nih coba dulu Der..!”, seruku kali ini sambil menyodorkan satu sendok krim susu kambing –bermaksud menyuapinya seperti yang Gumi lakukan padaku. Dera yang bersiap membuka mulut, ternyata terdahului oleh tangan Gumi yang seketika langsung memegang tanganku dan menyuapkan krim di tanganku itu ke mulutnya. “eh sialan lu Gum”, seru Dera. “hahaha…”, dengan tawa yang khas Gumi tega menertawakan Dera yang kini berkutit mencari sendok untuk mencoba krim itu sendiri. Yah.. Gumi kembali ke sikap kekanakkannya.

“ngiung ngiung ngiung… pesawat terbang mau masuk goa… ayo buka goanya.. ‘AAAAA”, seru Gumi sambil menyodorkan sendok berisi krim susu kambing itu ke mulutku. Aku yang tersipu melihat kekonyolannya langsung membuka mulut, tapi apa yang dia lakukan..? “aam.. nyam nyam nyam..”, katanya sambil memakan krim itu. Sial! Dia nipu aku! “hahaha.. Ghisya ketipu..”, serunya girang. Ckckck Gumi.. Gumi.. 

Lalu aku pura-pura ngambek. “waah.. jangan manyun gitu donk..! ya ampuun mpe segitunya pengen di suapin ma aku..”, katanya ke’geer’an. “nih nih ‘AAA buka mulutnya Ghisyaku sayang”, bujuknya. “ga mau!”, seruku singkat. “aku mau disuapin Dera ajah..! huh! Dera suapin aku donk!”, pintaku pada Dera. “iih.. Ghisya mah ambekan ah.. ini atu nih.. ‘AA buka mulutnya…”, serunya ga mau kalah. Akupun membuka mulutku dan sesuap lagi krim yang enak itu masuk ke mulut ku.. yeahhh.. enaaaaaak banget!

Selesai bermain dengan krim susu kambing, keheningan mulai menyergap. Lama hening.. dan tiba-tiba perkataan Gumi mengubah suasana. “gue jadi pengen ulang tahun deh.. biar di kasih jam tangan sama Ghisya”, tuturnya tanpa memandangku ataupun Dera. Waaah.. maafin aku Gum..

-end-

JAM TANGAN (25 April 2011) #part-2

...

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hujan reda! Dera langsung mengganti jam tangan yang dipakainya dengan jam tangan hadiah dariku. Kami berjalan-jalan menelusuri kampus-kampus dan tempat lain yang ada di sekitar rumah Dera. Pertama-tama kami berjalan kaki menuju Maranatha sebuah universitas kristen ternama di Bandung. Berkeliling disana, awalnya ragu karena ada satpam yang menjaga. 

Selain itu, kampus ini begitu sepi berhubung mungkin karena ini adalah libur natal. Usai puas berkeliling-keliling kampus, menelusuri kelas-kelas, laboraturium, aula dan sekre himpunan, kami pun beranjak meninggalkan kampus Maranatha ini, terlebih karena ada satpam yang sedari tadi berada di belakang kami dan ikut berkeliling bersama kami, seolah kami adalah pencuri yang patut dicurigai gerak-geriknya. Ckckck

Kemudian kami berjalan kembali menuju setrasari mall, masuk ke toko DVD, lalu melihat-lihat film-film baru apa yang seru belakangan ini. Aku melihat DVD kartun jaman dulu, sailor moon. Jadi ingin menonton kembali untuk mengenang masa kanak-kanak dulu yang begitu menyukai kartun itu. Melihat aku yang terpaku melihat-lihat dan memegang erat film-film kartun itu, Dera langsung berujar dengan senyum mengembang “kenapa Ghis? Mau? Ntar yah kalo Ghisya ultah Dera beliin DVD sailor moon segudang”

Usai melihat-lihat toko DVD, kami pun beranjak pergi tanpa membeli satupun, karena memang niat awalnya juga hanya sekedar melihat-lihat. Adzan ashar berkumandang, kami pun segera pergi ke mesjid terdekat. Sebuah mesjid yang cukup megah –aku lupa nama mesjidnya J. Disana terdapat kantin minuman dan makanan ringan, terdapat kelas PAUD lengkap dengan taman bermainnya, lalu banyak pajangan-pajangan berupa lukisan, foto-foto dan pengumuman-pengumuman. Mesjid yang bersih dan nyaman.

Aku sedang kedatangan tamu bulanan, jadi tidak bisa ikut shalat berjamaah dengan mereka berdua. Hanya menunggu, awalnya diam di kantin lalu pindah ke selasar mesjid, lalu berkeliling-keliling sendiri melihat-lihat. Cukup lama aku menunggu, bosan juga! akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka ke lantai dua mesjid ini, kebetulan mesjid sedang diperbaiki jadi hanya diperbolehkan shalat di lantai atas. 

Sesampainya disana ternyata mereka masih shalat, akupun memutuskan duduk di balkon mesjid sambil menatap langit sore yang begitu indah. Saat asik-asiknya melihat awan yang lembut dan menyerupai bentuk-bentuk boneka di kamarku, tiba-tiba sebuah pukulan dari tangan yang besar mengagetkanku. Spontan aku langsung teriak saat tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Gumi? Dia selalu jail dan kekanakkan.

“Gumi..!” teriakku spontan. Mengundang tatapan-tatapan sinis dari para pengunjung mesjid yang baru selesai shalat berjamaah, jadilah kami pusat perhatian. Gumi langsung berlari sambil menjulurkan lidah mencoba memancingku untuk mengejar dan menangkapnya. Benar-benar kekanakkan! Ternyata perkuliahan tidak mengubah sedikitpun sifat aslinya. Gum gum.. ckckck. 

Karena sadar kami tengah menjadi pusat perhatian, akupun tanpa berpikir panjang langsung berlari mengejar Gumi. Sedangkan Dera, ia langsung membungkuk sambil menganggukkan kepalanya –sebagai tanda permintaan maaf atas kedua sahabatnya yang nakal kepada para jamaah. Kemudian ikut berlari mengejar kami.

Rem dadakan Gumi membuat kakiku tercekat –karena terlalu dekatnya jarak kami, maka bertabrakanlah tubuh kami berdua, kepalaku tepat tersandar di dadanya yang bidang. Lalu tahukah kalian apa yang terjadi..? Gumi langsung memelukku dengan wajah penuh kemenangan (merasa berhasil 100% menjailiku) seraya berkata “berpelukan..” dengan gaya teletubies (film jaman kita kanak-kanak dulu). Semakin marahlah aku yang merasa semakin dipermainkan ini. Marah tapi suka :)

Dalam pelukannya aku meronta mencoba keluar sambil memukul-mukul seluruh bagian tubuhnya yang bisa kupukul. “iih lepasin! Nyebelin..! jahat jahat jahat!! Deraaaaaaa tolongin aku..!”, teriakku saat mencoba keluar dari kungkungan tangannya. Kulihat dari jauh Dera hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah polah kami.

“kalian itu udah gede lho..! udah bukan anak kecil lagi ih! Ga malu apa? Kamu ga pernah berubah ya Gum, ckckck”, ujar Dera saat tepat berada di depan kami. Mendengar perkataan Dera dengan segera Gumi melonggarkan pelukannya dan akupun bisa keluar dan dengan puas mencubit lengan Gumi sekuat tenaga. “dasar Gumi nyebeliiin..! dengerin tuh kata Dera! Gimana mu punya cewe kalo tingkah kamu aja masih kaya gini Gum”, tuturku ikut-ikutan menyalahkan Gumi. 

“Kamu juga sama Ghis.. kamu kan udah tau kalo Gumi emang jail, ya udah ga usah diladenin. Tadi harusnya kamu ga usah ngejar-ngejar Gumi. Biarin aja, ntar juga dia diem sendiri.” Nasehat Dera padaku. Aku yang ga suka dinasehatin langsung menyanggah “tapi kan Der, aku kaget! Orang lagi asik-asik mandang langit tiba-tiba ada yang nepuk punggung seenaknya, mending kalau tepukannya lembut. Huh”, ujarku dengan muka masam. Dera tidak menanggapi. “tapi suka kan..?”, tanya Gumi dengan senyuman polos kekanakannya dan aku hanya menjulurkan lidah menanggapi pertanyaan retoris Gumi itu.

Kemudian beranjaklah kami ke taman bermain yang ada disana. Dunia kanak-kanak yang begitu kental tertata disini, mulai dari ayunan, perosotan, komedi putar manual, pasir lompat jauh, dan alat-alat permainan taman lainnya. Iseng kami duduk-duduk di komedi putar manual (komedi putar yang akan berputar ketika kita memutarkannya). 

Seketika mainan ini berputar pelan karna Gumi mulai memutarnya. Aku menikmati putaran yang kecepatannya tak seberapa ini, tapi makin lama Gumi memutarnya semakin cepat. Aku gamau!! Rasanya ingin keluar dari komedi putar ini, aku pernah punya pengalaman buruk dengan komedi putar, gamau gamau lagi mengalami rasa pusing dan mual itu!

“Stop Gum! Stop stop! Aku mau turun ah!”, pintaku pada Gumi. Permintaan itu seolah menjadi sebuah pancingan bagi Gumi untuk menambah kecepatan putarannya. Ia semakin mempercepat putaran komedi putar ini. Aku mulai merasakan pusing itu. Tidaaak!! Gumi malah tertawa-tawa melihat aku yang mulai tidak suka suasana di komedi putar ini. 

“Seru tau Ghis..! ini Cuma komedi putar doank gitu! Gakan bikin lo kenapa-kenapa juga”, kata Gumi mencoba menyenangkan hatiku. Lalu ia cerewet bercerita segala hal yang lucu. Aku mulai menikmati suasana ini, tertawa lepas bersama di komedi putar, begitupun Dera. 

Semakin lama putarannya semakin cepat, aku merasakan pusing itu lagi dan mulai merasa mual. Tidak tahan dengan pandangan yang menjadi buyar karena terlalu cepatnya komedi ini berputar, lalu dengan menutup mata dan tak bisa menahan tawa aku berteriak “udah Guuuuuuuum… gue ga kuat… hahaha.. plis plis plis”. Gumi tak menggubris. Dia malah menambah kecepatan putaran. Tidaak.. ku mohon jangan Gum. Cukup. Huhu.. aku mulai oleng, kepalaku mulai tak jelas hingga seolah leherku sudah tak mampu menopang kepala ini lagi.

“Gumi Gumi Gumi serius Gum gue pusing..!”, seruku kali ini serius tanpa tawa. Dera pun merasakan hal yang sama, dia sudah tak kuat dan meminta Gumi menghentikannya. Pelan-pelan putaran mulai mereda. Namun aku masih belum kuat untuk berdiri tegak dan keluar dari komedi putar itu, sedangkan Dera dengan seketika langsung keluar saat putaran mereda. Aku berusaha berdiri dan keluar, tapi kalian tau apa yang terjadi..? belum benar-benar tegak aku berdiri, Gumi langsung memegang bahuku dan mendudukkanku kembali di komedi putar itu. Lalu dengan tega ia duduk disampingku dan memutar kembali komedi putarnya. Oh no God! Help me..!

-to be continued-

JAM TANGAN (25 April 2011) #part-1



Masa SMA memang masa yang paling indah, paling berkesan, paling luar biasa. Saat itu kami kembali mengenang masa SMA dengan berkunjung ke sekolah kami di hari libur. Berkeliling melihat-lihat perubahan apa saja yang terjadi selepas kepergian kami. Sekolah yang asri dengan tanaman-tanaman yang indah dan pohon-pohon yang menyejukkan. 

Kami telusuri kelas-kelas yang menjadi tempat kenangan kami, kami telusuri kantin, toilet, ruang guru, dan tempat-tempat lain yang banyak menyimpan kenangan indah masa silam. Yaah.. tak terasa kami sudah kurang lebih 2 tahun menjadi alumni sekolah ini. Begitu banyak perubahan, menjadi lebih indah, lebih nyaman, lebih asri. Membuat para alumni iri karena dulu tak sekeren ini. Begitu pun yang aku, Gumi dan Dera rasakan saat ini.

Gumi dan Dera adalah dua sahabatku yang begitu banyak mengajarkan arti kehidupan, arti sebuah pertemanan, banyak menggoreskan tinta cerita dalam lembaran-lembaran buku kehidupanku. Gumi sang sosok kekanakkan dan Dera sang sosok kebapakan. Aku sayang keduanya, dua sosok yang berbeda tapi menjadi saling melengkapi saat dipertemukan. Aku suka sifat kekanakkannya Gumi dan aku butuh sikap kebapakan Dera. Dua sahabat yang benar-benar melengkapi hari-hariku.

Hal yang paling ku ingat saat SMA dulu, aku selalu menghabiskan waktu istirahatku untuk mencari dan memanen jambu kupa, tanaman hasil perkawinan silang antara pohon jambu dan pohon kupa –itu kata pak Didi guru biologi kami. Sebuah pohon yang menjulang tak begitu tinggi di depan kelas kami, aku yang pendek ini selalu meminta bantuan Gumi karena dia lebih tinggi. Ia selalu mau menolongku mengambilkan jambu kupa itu, ikut berseru riang saat kami berhasil dengan susah payah mengail bahkan kadang memanjat pohon ini. 

Dan Dera selalu memperhatikan kami dari jauh, menasehati dan memastikan kami tidak apa-apa. Benar-benar seperti seorang bapak yang begitu takut anaknya terjatuh. Setelah puas mengambil jambu-jambu kupa itu, kami dengan bangga membagikannya pada siapa saja yang mau mencoba buah ini. Tak terkecuali Dera, tentu saja ia selalu menjadi orang pertama yang kami tawari. Sebuah kenangan yang indah.

Hari ini, seolah kejadian itu terputar kembali di memori otakku saat aku melihat pohon jambu kupa yang masih kokoh berdiri di depan kelas kami itu. Lalu kami saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain, saling tahu apa yang sedang dipikirkan –mengingat kejadian yang begitu konyol itu. Lalu kami memasuki kelas kami yang dulu –kebetulan pintunya tak dikunci. Kami lihat disana banyak yang berubah, namun bagaimana pun kelas ini masih menyisakan nuansa kelas kami yang dulu. 

Kami ingat Bu Nana guru kimia yang selalu menyuruh muridnya ke depan kelas untuk mengerjakan soal-soal yang beliau berikan, menyuruh muridnya untuk membuka buku dengan halaman yang beliau sebutkan, memanggil satu persatu nama muridnya untuk membacakan dengan suara tegas halaman tersebut. Yaah.. saat memasuki kembali kelas ini, semua memori kenangan masa silam terputar dengan sendirinya, ada rindu yang menelisik dalam hati. Kangeeeen… ingin kembali ke masa lalu rasanya.

Setelah puas menelusuri tempat-tempat yang menjadi kenangan, kami beranjak pergi menuju bengkel untuk mengambil motor Dera yang baru saja di cuci. Sesampainya disana Dera langsung memberikan beberapa rupiah pada sang montir, lalu menyuruh kami (aku dan Gumi) untuk pergi ke rumahnya duluan. Karena ga mungkin kita naik motor bertiga. 

Akupun berjalan di samping Gumi dan pergilah kami menuju rumah Dera. Setelah beberapa langkah berjalan, aku merasa jalan menuju rumah Dera dulu bukanlah kesini, apa rumah Dera sudah pindah? Karena ragu akupun bertanya pada Gumi “Gum, emang lewat sini yah rumah Dera?”. “lha? Iya kan kalo ga salah? Ato salah yah..? waduh aku juga lupa.”, jawab Gumi bingung. “waah.. kita salah jalan nih! Kayanya kesana deh”, seruku yang ikutan bingung. Lalu kami pun memutar arah, dan dengan susah payah memutar kembali memori otak, mencoba mengingat jalan mana yang harus ditempuh untuk sampai ke rumah Dera, dan akhirnya kami pun sampai.

Sampai di rumah Dera, kami nonton TV. Tapi acara TV seolah hanya menjadi formalitas, agar suasana rumah tidak terlalu sepi. Kami bertiga malah asik mengobrol dan membiarkan televisi mengoceh sendirian. Kami ingin pergi jalan-jalan sebenarnya, tapi karena hujan, jadi kami terjebak di sini. Beberapa saat kemudian, tanpa diminta Dera langsung beranjak ke dapur dan membawakan kami minum dan cemilan. Tanpa menunggu di persilakan, aku dan Gumi langsung menyantap jeruk dan pudding yang disediakan Dera di atas meja. Kami menunggu hujan reda sambil ngemil. 

Cemilan habis, namun hujan tak kunjung reda. Kebosanan mulai menyergap. Gumi beranjak menuju ruangan play station untuk bermain bersama adiknya Dera –yang dari tadi asik bermain sendirian. Tinggalah aku berdua dengan Dera di ruang tengah. Dua hari yang lalu Dera ulang tahun, dan aku membawa kado untuknya sekarang. Tapi bingung untuk memberikannya, mengingat disini ada Gumi –meskipun dia sedang asik bermain PS. 

Aku ga mau Gumi menganggapku pilih kasih, ato ngambek gara-gara waktu dia ulang tahun aku tak memberikan kado apapun. Tapi akhirnya kuberanikan diri untuk memberikan kado ini pada Dera. Berharap ia langsung menyimpannya ke kamar dan membukanya nanti saat aku dan Gumi sudah pergi dari sini.

Tapi tanpa diduga Dera langsung membuka bungkusan kado itu di hadapanku, dan entah mengapa Gumi pun tiba-tiba berhenti bermain PS, dan beranjak ke ruang tengah, lalu dengan diam menyaksikan Dera membuka bungkusan kado itu. Usai membukanya, Dera pun langsung mengucapkan terimakasih dan mengundang sebuah pertanyaan (dari Gumi) itu hadir “lo yang ngasih Ghis?”. Sebuah pertanyaan simple, namun seolah menusukku bagai sebuah pertanyaan ‘kok waktu gue ulang tahun lo ga ngasih apa-apa?’. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu. 

Terlihat seraut kekecewaan di wajah kekanakkannya itu, namun ia tutupi dengan sebuah kegirangan “ciie.. selamat ulang tahun ya Der. Waah jam tangannya bagus banget yah”. Dera tak menanggapi perkataan Gumi, ia malah bertanya padaku “berapaan sih ini Ghis..? pasti mahal yah?”. Dan aku hanya berkata “ada deh..” seraya tersenyum girang karena jam tangan pilihanku –yang tidak terlalu mahal itu terlihat begitu elegan dan mahal.
***
-to be continued-