Sabtu, 01 Februari 2014

JAM TANGAN (25 April 2011) #part-2

...

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hujan reda! Dera langsung mengganti jam tangan yang dipakainya dengan jam tangan hadiah dariku. Kami berjalan-jalan menelusuri kampus-kampus dan tempat lain yang ada di sekitar rumah Dera. Pertama-tama kami berjalan kaki menuju Maranatha sebuah universitas kristen ternama di Bandung. Berkeliling disana, awalnya ragu karena ada satpam yang menjaga. 

Selain itu, kampus ini begitu sepi berhubung mungkin karena ini adalah libur natal. Usai puas berkeliling-keliling kampus, menelusuri kelas-kelas, laboraturium, aula dan sekre himpunan, kami pun beranjak meninggalkan kampus Maranatha ini, terlebih karena ada satpam yang sedari tadi berada di belakang kami dan ikut berkeliling bersama kami, seolah kami adalah pencuri yang patut dicurigai gerak-geriknya. Ckckck

Kemudian kami berjalan kembali menuju setrasari mall, masuk ke toko DVD, lalu melihat-lihat film-film baru apa yang seru belakangan ini. Aku melihat DVD kartun jaman dulu, sailor moon. Jadi ingin menonton kembali untuk mengenang masa kanak-kanak dulu yang begitu menyukai kartun itu. Melihat aku yang terpaku melihat-lihat dan memegang erat film-film kartun itu, Dera langsung berujar dengan senyum mengembang “kenapa Ghis? Mau? Ntar yah kalo Ghisya ultah Dera beliin DVD sailor moon segudang”

Usai melihat-lihat toko DVD, kami pun beranjak pergi tanpa membeli satupun, karena memang niat awalnya juga hanya sekedar melihat-lihat. Adzan ashar berkumandang, kami pun segera pergi ke mesjid terdekat. Sebuah mesjid yang cukup megah –aku lupa nama mesjidnya J. Disana terdapat kantin minuman dan makanan ringan, terdapat kelas PAUD lengkap dengan taman bermainnya, lalu banyak pajangan-pajangan berupa lukisan, foto-foto dan pengumuman-pengumuman. Mesjid yang bersih dan nyaman.

Aku sedang kedatangan tamu bulanan, jadi tidak bisa ikut shalat berjamaah dengan mereka berdua. Hanya menunggu, awalnya diam di kantin lalu pindah ke selasar mesjid, lalu berkeliling-keliling sendiri melihat-lihat. Cukup lama aku menunggu, bosan juga! akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka ke lantai dua mesjid ini, kebetulan mesjid sedang diperbaiki jadi hanya diperbolehkan shalat di lantai atas. 

Sesampainya disana ternyata mereka masih shalat, akupun memutuskan duduk di balkon mesjid sambil menatap langit sore yang begitu indah. Saat asik-asiknya melihat awan yang lembut dan menyerupai bentuk-bentuk boneka di kamarku, tiba-tiba sebuah pukulan dari tangan yang besar mengagetkanku. Spontan aku langsung teriak saat tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Gumi? Dia selalu jail dan kekanakkan.

“Gumi..!” teriakku spontan. Mengundang tatapan-tatapan sinis dari para pengunjung mesjid yang baru selesai shalat berjamaah, jadilah kami pusat perhatian. Gumi langsung berlari sambil menjulurkan lidah mencoba memancingku untuk mengejar dan menangkapnya. Benar-benar kekanakkan! Ternyata perkuliahan tidak mengubah sedikitpun sifat aslinya. Gum gum.. ckckck. 

Karena sadar kami tengah menjadi pusat perhatian, akupun tanpa berpikir panjang langsung berlari mengejar Gumi. Sedangkan Dera, ia langsung membungkuk sambil menganggukkan kepalanya –sebagai tanda permintaan maaf atas kedua sahabatnya yang nakal kepada para jamaah. Kemudian ikut berlari mengejar kami.

Rem dadakan Gumi membuat kakiku tercekat –karena terlalu dekatnya jarak kami, maka bertabrakanlah tubuh kami berdua, kepalaku tepat tersandar di dadanya yang bidang. Lalu tahukah kalian apa yang terjadi..? Gumi langsung memelukku dengan wajah penuh kemenangan (merasa berhasil 100% menjailiku) seraya berkata “berpelukan..” dengan gaya teletubies (film jaman kita kanak-kanak dulu). Semakin marahlah aku yang merasa semakin dipermainkan ini. Marah tapi suka :)

Dalam pelukannya aku meronta mencoba keluar sambil memukul-mukul seluruh bagian tubuhnya yang bisa kupukul. “iih lepasin! Nyebelin..! jahat jahat jahat!! Deraaaaaaa tolongin aku..!”, teriakku saat mencoba keluar dari kungkungan tangannya. Kulihat dari jauh Dera hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah polah kami.

“kalian itu udah gede lho..! udah bukan anak kecil lagi ih! Ga malu apa? Kamu ga pernah berubah ya Gum, ckckck”, ujar Dera saat tepat berada di depan kami. Mendengar perkataan Dera dengan segera Gumi melonggarkan pelukannya dan akupun bisa keluar dan dengan puas mencubit lengan Gumi sekuat tenaga. “dasar Gumi nyebeliiin..! dengerin tuh kata Dera! Gimana mu punya cewe kalo tingkah kamu aja masih kaya gini Gum”, tuturku ikut-ikutan menyalahkan Gumi. 

“Kamu juga sama Ghis.. kamu kan udah tau kalo Gumi emang jail, ya udah ga usah diladenin. Tadi harusnya kamu ga usah ngejar-ngejar Gumi. Biarin aja, ntar juga dia diem sendiri.” Nasehat Dera padaku. Aku yang ga suka dinasehatin langsung menyanggah “tapi kan Der, aku kaget! Orang lagi asik-asik mandang langit tiba-tiba ada yang nepuk punggung seenaknya, mending kalau tepukannya lembut. Huh”, ujarku dengan muka masam. Dera tidak menanggapi. “tapi suka kan..?”, tanya Gumi dengan senyuman polos kekanakannya dan aku hanya menjulurkan lidah menanggapi pertanyaan retoris Gumi itu.

Kemudian beranjaklah kami ke taman bermain yang ada disana. Dunia kanak-kanak yang begitu kental tertata disini, mulai dari ayunan, perosotan, komedi putar manual, pasir lompat jauh, dan alat-alat permainan taman lainnya. Iseng kami duduk-duduk di komedi putar manual (komedi putar yang akan berputar ketika kita memutarkannya). 

Seketika mainan ini berputar pelan karna Gumi mulai memutarnya. Aku menikmati putaran yang kecepatannya tak seberapa ini, tapi makin lama Gumi memutarnya semakin cepat. Aku gamau!! Rasanya ingin keluar dari komedi putar ini, aku pernah punya pengalaman buruk dengan komedi putar, gamau gamau lagi mengalami rasa pusing dan mual itu!

“Stop Gum! Stop stop! Aku mau turun ah!”, pintaku pada Gumi. Permintaan itu seolah menjadi sebuah pancingan bagi Gumi untuk menambah kecepatan putarannya. Ia semakin mempercepat putaran komedi putar ini. Aku mulai merasakan pusing itu. Tidaaak!! Gumi malah tertawa-tawa melihat aku yang mulai tidak suka suasana di komedi putar ini. 

“Seru tau Ghis..! ini Cuma komedi putar doank gitu! Gakan bikin lo kenapa-kenapa juga”, kata Gumi mencoba menyenangkan hatiku. Lalu ia cerewet bercerita segala hal yang lucu. Aku mulai menikmati suasana ini, tertawa lepas bersama di komedi putar, begitupun Dera. 

Semakin lama putarannya semakin cepat, aku merasakan pusing itu lagi dan mulai merasa mual. Tidak tahan dengan pandangan yang menjadi buyar karena terlalu cepatnya komedi ini berputar, lalu dengan menutup mata dan tak bisa menahan tawa aku berteriak “udah Guuuuuuuum… gue ga kuat… hahaha.. plis plis plis”. Gumi tak menggubris. Dia malah menambah kecepatan putaran. Tidaak.. ku mohon jangan Gum. Cukup. Huhu.. aku mulai oleng, kepalaku mulai tak jelas hingga seolah leherku sudah tak mampu menopang kepala ini lagi.

“Gumi Gumi Gumi serius Gum gue pusing..!”, seruku kali ini serius tanpa tawa. Dera pun merasakan hal yang sama, dia sudah tak kuat dan meminta Gumi menghentikannya. Pelan-pelan putaran mulai mereda. Namun aku masih belum kuat untuk berdiri tegak dan keluar dari komedi putar itu, sedangkan Dera dengan seketika langsung keluar saat putaran mereda. Aku berusaha berdiri dan keluar, tapi kalian tau apa yang terjadi..? belum benar-benar tegak aku berdiri, Gumi langsung memegang bahuku dan mendudukkanku kembali di komedi putar itu. Lalu dengan tega ia duduk disampingku dan memutar kembali komedi putarnya. Oh no God! Help me..!

-to be continued-

JAM TANGAN (25 April 2011) #part-1



Masa SMA memang masa yang paling indah, paling berkesan, paling luar biasa. Saat itu kami kembali mengenang masa SMA dengan berkunjung ke sekolah kami di hari libur. Berkeliling melihat-lihat perubahan apa saja yang terjadi selepas kepergian kami. Sekolah yang asri dengan tanaman-tanaman yang indah dan pohon-pohon yang menyejukkan. 

Kami telusuri kelas-kelas yang menjadi tempat kenangan kami, kami telusuri kantin, toilet, ruang guru, dan tempat-tempat lain yang banyak menyimpan kenangan indah masa silam. Yaah.. tak terasa kami sudah kurang lebih 2 tahun menjadi alumni sekolah ini. Begitu banyak perubahan, menjadi lebih indah, lebih nyaman, lebih asri. Membuat para alumni iri karena dulu tak sekeren ini. Begitu pun yang aku, Gumi dan Dera rasakan saat ini.

Gumi dan Dera adalah dua sahabatku yang begitu banyak mengajarkan arti kehidupan, arti sebuah pertemanan, banyak menggoreskan tinta cerita dalam lembaran-lembaran buku kehidupanku. Gumi sang sosok kekanakkan dan Dera sang sosok kebapakan. Aku sayang keduanya, dua sosok yang berbeda tapi menjadi saling melengkapi saat dipertemukan. Aku suka sifat kekanakkannya Gumi dan aku butuh sikap kebapakan Dera. Dua sahabat yang benar-benar melengkapi hari-hariku.

Hal yang paling ku ingat saat SMA dulu, aku selalu menghabiskan waktu istirahatku untuk mencari dan memanen jambu kupa, tanaman hasil perkawinan silang antara pohon jambu dan pohon kupa –itu kata pak Didi guru biologi kami. Sebuah pohon yang menjulang tak begitu tinggi di depan kelas kami, aku yang pendek ini selalu meminta bantuan Gumi karena dia lebih tinggi. Ia selalu mau menolongku mengambilkan jambu kupa itu, ikut berseru riang saat kami berhasil dengan susah payah mengail bahkan kadang memanjat pohon ini. 

Dan Dera selalu memperhatikan kami dari jauh, menasehati dan memastikan kami tidak apa-apa. Benar-benar seperti seorang bapak yang begitu takut anaknya terjatuh. Setelah puas mengambil jambu-jambu kupa itu, kami dengan bangga membagikannya pada siapa saja yang mau mencoba buah ini. Tak terkecuali Dera, tentu saja ia selalu menjadi orang pertama yang kami tawari. Sebuah kenangan yang indah.

Hari ini, seolah kejadian itu terputar kembali di memori otakku saat aku melihat pohon jambu kupa yang masih kokoh berdiri di depan kelas kami itu. Lalu kami saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain, saling tahu apa yang sedang dipikirkan –mengingat kejadian yang begitu konyol itu. Lalu kami memasuki kelas kami yang dulu –kebetulan pintunya tak dikunci. Kami lihat disana banyak yang berubah, namun bagaimana pun kelas ini masih menyisakan nuansa kelas kami yang dulu. 

Kami ingat Bu Nana guru kimia yang selalu menyuruh muridnya ke depan kelas untuk mengerjakan soal-soal yang beliau berikan, menyuruh muridnya untuk membuka buku dengan halaman yang beliau sebutkan, memanggil satu persatu nama muridnya untuk membacakan dengan suara tegas halaman tersebut. Yaah.. saat memasuki kembali kelas ini, semua memori kenangan masa silam terputar dengan sendirinya, ada rindu yang menelisik dalam hati. Kangeeeen… ingin kembali ke masa lalu rasanya.

Setelah puas menelusuri tempat-tempat yang menjadi kenangan, kami beranjak pergi menuju bengkel untuk mengambil motor Dera yang baru saja di cuci. Sesampainya disana Dera langsung memberikan beberapa rupiah pada sang montir, lalu menyuruh kami (aku dan Gumi) untuk pergi ke rumahnya duluan. Karena ga mungkin kita naik motor bertiga. 

Akupun berjalan di samping Gumi dan pergilah kami menuju rumah Dera. Setelah beberapa langkah berjalan, aku merasa jalan menuju rumah Dera dulu bukanlah kesini, apa rumah Dera sudah pindah? Karena ragu akupun bertanya pada Gumi “Gum, emang lewat sini yah rumah Dera?”. “lha? Iya kan kalo ga salah? Ato salah yah..? waduh aku juga lupa.”, jawab Gumi bingung. “waah.. kita salah jalan nih! Kayanya kesana deh”, seruku yang ikutan bingung. Lalu kami pun memutar arah, dan dengan susah payah memutar kembali memori otak, mencoba mengingat jalan mana yang harus ditempuh untuk sampai ke rumah Dera, dan akhirnya kami pun sampai.

Sampai di rumah Dera, kami nonton TV. Tapi acara TV seolah hanya menjadi formalitas, agar suasana rumah tidak terlalu sepi. Kami bertiga malah asik mengobrol dan membiarkan televisi mengoceh sendirian. Kami ingin pergi jalan-jalan sebenarnya, tapi karena hujan, jadi kami terjebak di sini. Beberapa saat kemudian, tanpa diminta Dera langsung beranjak ke dapur dan membawakan kami minum dan cemilan. Tanpa menunggu di persilakan, aku dan Gumi langsung menyantap jeruk dan pudding yang disediakan Dera di atas meja. Kami menunggu hujan reda sambil ngemil. 

Cemilan habis, namun hujan tak kunjung reda. Kebosanan mulai menyergap. Gumi beranjak menuju ruangan play station untuk bermain bersama adiknya Dera –yang dari tadi asik bermain sendirian. Tinggalah aku berdua dengan Dera di ruang tengah. Dua hari yang lalu Dera ulang tahun, dan aku membawa kado untuknya sekarang. Tapi bingung untuk memberikannya, mengingat disini ada Gumi –meskipun dia sedang asik bermain PS. 

Aku ga mau Gumi menganggapku pilih kasih, ato ngambek gara-gara waktu dia ulang tahun aku tak memberikan kado apapun. Tapi akhirnya kuberanikan diri untuk memberikan kado ini pada Dera. Berharap ia langsung menyimpannya ke kamar dan membukanya nanti saat aku dan Gumi sudah pergi dari sini.

Tapi tanpa diduga Dera langsung membuka bungkusan kado itu di hadapanku, dan entah mengapa Gumi pun tiba-tiba berhenti bermain PS, dan beranjak ke ruang tengah, lalu dengan diam menyaksikan Dera membuka bungkusan kado itu. Usai membukanya, Dera pun langsung mengucapkan terimakasih dan mengundang sebuah pertanyaan (dari Gumi) itu hadir “lo yang ngasih Ghis?”. Sebuah pertanyaan simple, namun seolah menusukku bagai sebuah pertanyaan ‘kok waktu gue ulang tahun lo ga ngasih apa-apa?’. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu. 

Terlihat seraut kekecewaan di wajah kekanakkannya itu, namun ia tutupi dengan sebuah kegirangan “ciie.. selamat ulang tahun ya Der. Waah jam tangannya bagus banget yah”. Dera tak menanggapi perkataan Gumi, ia malah bertanya padaku “berapaan sih ini Ghis..? pasti mahal yah?”. Dan aku hanya berkata “ada deh..” seraya tersenyum girang karena jam tangan pilihanku –yang tidak terlalu mahal itu terlihat begitu elegan dan mahal.
***
-to be continued-

agar-agar jelly dua lapis cinta #part-3



Belum puas dengan mie dan rujak, mereka berdua masih menanyakan kapan sesi pesta agar-agarnya. Oke oke.. akupun ngecek agar-agarnya, dan ternyata udah jadi. Jadinya cantik banget, jeli dua lapis dengan rasa jeruk di atas, plus taburan potongan stroberi dan rasa coklat dibawah, yaah meskipun hiasan stroberi yang tadinya dibentuk lope sama sekali ga mirip lope, yaudalayah.. terus aku bawain susu sasheet cap enak untuk disiram diatas stroberinya. Tanpa komando, kiki langsung menyiram agar-agar jeli dua lapis itu dengan susu, waah menambah kecantikan dan cita rasa agar-agar jeli dua lapis ini. Dan tanpa komando juga, wawan langsung memotong agar-agar jeli dua lapis ini kaya potongan pizza, selesai dipotong, ada jeli yang nyangkut di pisau dan langsung dijilat sama wawan. Iyuuh.. jorok! Jangan dipake lagi pisaunyaaaa…

Abis itu kita poto-poto pake hape wawan yang katanya mau dijual tapi belum ada yang mau beli (yeeh kan udah aku bilang waan.. sini.. aku ambil, uangnya minta ke Halim :), kamunya gamau, yaudah). Wawan menambahkan lagi siraman susu ke agar-agarnya, “eh udah wan!”, kata kiki teh. Wawan pun berhenti dan bertindak jorok lagi, masa sekarang dia ngejilat susu sasheetnya? Padahal tuh susu masih adaan. Aah nyebelin! Jangan disiramin pake susu sasheet itu lagiiii…

Semua telah memegang sendok dan siap menyantap! Sejak lidah ini merasakan gigitan pertama jelinya, “hmmm.. enak enak enak enaaaaak..! iih enaak banget, Alhamdulillah yaah (pake gaya ngomong syahrini tea)”, seruku riang, Alhamdulillah aku berhasil bikinnya.. yeee!! Yang lain mengiyakan kalo agar-agar ini enak. Terus sekarang aku mulai menggombal (mu ngalahin kiki ah, emang cuma kiki doang yang bisa ngegombal? ;p) “emang yah.. enak banget! Segala sesuatu yang dibikin penuh cinta tuh emang selalu enak yaah?’, kataku dengan senyum so’ manis. Kulihat ekspresi tersirat ‘naon sih maneh is? Gombal!’ dari mata wawan dan kiki. “iya tauuu.. aku kan bikinnya penuh cinta gitu buat kalian berdua.. ya ampuuun (#dengan logat alay tea) nama agar-agar ini adalah ‘agar-agar jelly dua lapis cinta :)’ hmm hmm hmm atau agar-agar cinta dua hati, hahaha etamah laguna si apgan.”.

“eh beneran lho.. kita ikhlas banget bikinin kalian agar-agar jeli ini”, seru tehLinda penuh semangat. “eh teh, orang ikhlas tuh gakan bilang-bilang kalo dia ikhlas”, timpal kiki. “hey hey hey! Ngga ko! Aku ga IKHLAS sama sekali, tapi penuh cinta!”, eeahh akupun asik menggombal sendiri, nyeloteh ga jelas sambil terus melahap agar-agar jeli ini yang emang luar biasa banget enaknya! Ga boong deh :), this is it.. agar-agar jelly dua lapis cinta ala chef Lin-dan-is Queen. Hmmm… nyammiiiii~

Ditengah keseruan menyantap agar-agar, akupun menyampaikan maksud sebenarnya, hahaha :D. “eh, tapi tapi.. satu hal yang harus kalian ketahui..”, seru aku tiba-tiba yang membuat kerut bingung muncul di kening dua ikhwan yang menyantap lahap agar-agar ini, lalu keluarlah senyum-senyum licik antara aku dan tehLinda, hahaha :D, “ini semua ga gratis lhooo..”, kataku dengan senyum termanis buat mereka. Dua-duanya so’ iyeh panik-panikan, “waah.. wan, balik yu ah”, ajak kiki ke wawan, “wah iya nih, aku mu ke cisarua sama si munir”, timpal wawan. “Heeeeey..! seenaknya yaah.. kalian tega apah..? jahat banget ngebiarin kita harus ngelakuin itu berdua doang.. bantuin yaah”, seruku. “mu ngapain sih? Aku mau ngehome visit is”, tanya kiki. 

“Itu dia, aku tuh mau bilang kiki jangan dulu ngehomevisit hari ini yah, besok aja.. sekarang bantuin kita dulu, yah yah yah?”, kataku menjelaskan. “eish ga bisa! Harus sekarang, bisi pada keburu ke Bandung, kan kamis udah mulai kuliah lagi. Ngebantuin apa sih?”, timpal kiki. “ini ngehomevisit juga kok ki, wan.. bantuin yaah.. anterin kita laah pliiiis.. masa kalian tega sama kita, yah yah yah?”, jawab aku teh. “Homevisit? Homevisit kemana?”, tanya mereka berdua. “ke kosan tehLinda! Hehehe ;p, bantuin pindahan. Yah yah yah da bageur…”, jawabku. Singkat cerita, mereka berdua mau ajah ngebantuin, ngajak yoga juga, dan singkat cerita juga beberapa menit kemudian yoga pun datang. 

Ku sambutlah yoga dengan sapaan penuh ceria “papiiiiiiiiiiiiiiih..” (#panggilan papih adalah salah satu sejarah santolo), tapi dengan dinginnya yoga sama sekali ga ngerespon, bahkan tak memalingkan sedikitpun wajahnya untuk menoleh ke hadapku. Aiih nyebelin, ga di respon. Lagi-lagi dengan penuh ceria aku tetap menyapanya “papiiiiiiiiiiih.. (not responding), iih si papih mah meni jahat! Iih aku ga di waro.. nyebelin”, kata aku teh, trus yoga malah nanyain di kamar mandi ada orang ga? Beuh.. cape deh.

Barang-barang tehLinda pun telah berpindah ke ruang depan dan siap dibawa, aku memilih yang ringan, Hahaha :D. “aku yang ini aja deh, biar bisa dipeluk”, celotehku. Wawan menimpali, “si iis mah tadi cinta, sekarang peluk, ih cinta-cintaan wae”, “biarin dong, suka-suka aku”, timpalku. Akhirnya semua siap untuk berangkat dengan bawaan masing-masing. “Alhamdulillah yaah” (#pake gaya syahrini tea).

“Gandeng maneh is!”, timpal yoga yang bosan dengan gaya ngomong alhamdulillahnya syahrini, sesuatu banget gituh ;p. Singkat cerita, kita pun pergi menuju kosan tehLinda, dan ditengah jalan setapak (saat itu, wawan memimpin di depan, lanjut aku yang ada di belakang wawan, kemudian ada yoga di belakangku, terus kiki dibelakang yoga, dan terakhir tehLinda di urutan paling belakang) tiba-tiba barang bawaannya yoga jatuh, gatau deh kenapa. Aku yang melihat kejadian itu langsung nyeletuk “yah elah, yoga merhatiin aku terus siih..” (#kembali gombal mode on), dan kudengar tehLinda dan kiki bisik-bisik “kepedean amat sih si iis”, hahaha :D gue gituh.

Singkat cerita, usai sudah pemindahan barang-barang tehLinda dari asrama ke kosan, meskipun sempet mampir dulu ke asrama ikhwan tu barang-barang. Kiki, wawan, yoga pun beranjak kembali ke asrama. Aku masih harus nemenin tehLinda bebenah kamar kosannya. Selesai itu, kita langsung pulang lagi ke asrama, sambil nyari jalan tikus. Dan tiba-tiba tembuslah kita langsung ke unpad, weew asik banget dah.. deket banget berarti kosan tehLinda ke kampus teh, Alhamdulillah yaah (#lagi-lagi dengan gaya ngomong syahrini). 

Di tengah perjalanan, tehLinda beli dulu alat tulis, lalu tertarik dengan dispenser dan setrikaan yang kebetulan ada disana terus jadi galau mu mendahulukan yang mana karna uang terbatas, akhirnya memutuskan pilih dispenser dulu setelah aku ngasih saran. Dan alhasil kami kembali ke kosan tehLinda buat nyimpen dispenser ini. Terus datanglah kembali kegalauan, duuh beli galon dimana yah? Warung masih pada tutup gini, paling ke indomart yang kebetulan ga terlalu jauh dari kosan tehLinda, tapi siapa yang mau bawain coba..? beuh.. akhirnya kita kembali ke asrama ikhwan untuk meminta bala bantuan. Dan saat lewat jalan menuju asrama, kita menemukan sosok bang dedi yang baru nyampe asrama dengan motornya, aha! (#pikiran licik pun kembali datang), tanpa pikir panjang kita pun masuk ke asrama ikhwan dengan maksud minta bantuan. Singkat cerita, bang Dedi (yang kita mintain bantuan) cape, jadinya bang Gogof yang bawain galon dengan meminjam motor bang Dedi. Alhamdulillah yaah… makasih banyak abang-abangku yang baik hati dan tidak sombong, rajin menabung pula :)

Tak terasa tiba-tiba udah Magrib ajah, aku dan tehLinda pun solat magrib dulu di mushola anak FKG Unpad, asiik.. hehe. Dan singkat cerita juga, akhirnya kita mampir dulu ke Yan Baso Solo buat makan, lapeur banget soalnya. Huhu… Dan (#lagi-lagi) singkat cerita sampailah kami di asrama, lalu galau melihat ruang depan asrama yang begitu kacau gara-gara pestaphora tadi siang. Aaiiih.. kami pun akhirnya mandi karna seharian ga mandi, parah banget, trus tepaaaar. Dan pada akhirnya malah tehHana yang beresin semuanya.. aduuh maaf ya teh.. kita ngerepotin teteh mulu. Huhu. Alhamdulillah yaah (lagi-lagi syahrini mode on ;p)

CMIIW
#end

agar-agar jelly dua lapis cinta #part-2



6 September 2011
Pagi-pagi buta aku masih nonton tipi, begadang ceritanya teh, tapi jam 2 udah tidur lagi sih.. hehehe. Bangun lagi jam 5 buat solat trus tidur lagi, dan singkat cerita tiba-tiba udah jam 9 ajah, dan aku belum mandi, dan emang ga akan mandi siiih.. males! Harus nimba euy di rumah mah.. ribet, cape, berat, keringetan lagi ntar teh pas selese mandi, jadi mending ga usah, haha parah. Terus aku mulai packing baju-baju yang kebetulan ketinggalan di rumah.. beuh banyaaak banget kaya mau mudik ajah bawaan aku, ckckck. Ditambah lagi bawa mie instan, kue lebaran, bumbu rujak, buah-buahan, dll. Minta uang juga gara-gara keabisan (;p).

Rencananya pulang dari rumah aku mu bantuin tehLinda packing dan pindahan ke kosan baru, tapi setelah dipikir-pikir masa cuma aku sendirian yang ngebantuin. Hmm hmm hmm kembali memutar otak (#ngaco), gimana yah..? Barang-barang yang harus dipindahin kan ga sedikit, mana jauh lagi jalannya ke kosan tehLinda, hmm… butuh bantuan ikhwan nih! Jadi aja aku usul ke tehLinda untuk mengadakan pesta agar-agar dan rujak party. Singkat cerita kita ke pasar ajah buat belanja nutrijel coklat, nutrijel jeruk, gula putih dan strawberry. Tanpa pikir panjang aku sms Halim

Iis: Mas Haaliiim. .Di asrama ada sapa ajh? #aku mu mampir :p
Halim: Ada ulfi,kg gofar,afif,yoga,wawan,opik.
Halim: Oh y, 1lg, angga
Iis: Acik acik banyak orang. .Owkayy
Halim: Tp pd d kmar msng2 smua mag ny mw ngapain k asrama?
Iis: Aadaaa deeeh. .Mu ngasih surprise :p

Tadinya emang mu ngasih surprise gitu, aku n tehLinda ke asrama ikhwan sambil bawa agar-agar jeli dan buah-buahan buat ngerujak trus kita bikin rujak n agar jeli party disana. Tapi tehLinda ga setuju, mending ikhwannya yang kesini, biar ntar setelah dijamu dengan semua makanan enak itu, kita kasih kardus-kardus barang tehLinda deh. Waah bener juga yah! Ide bagus, yowes.. akhirnya aku sms Halim lagi “Halim. .masih sebanyak tadi pagikah para ikhwan d asrama? Ak gajadi mampir ah. .kalian aja yg ksni mau gaaa? Mau yah mau yah! Aku kangeeen #dusta”. Halim tak merespon. Aah nyebelin, ya udah aku jarkom ke grup lagi deh “Aslm. .Temen temen eBand yg disayang Allah :) ke asrama akhwat yuuu! kita pesta agar2! kita petik mangga2 yg telah lama brsemayam truz ngerujak bareng jg yu yu yu! Di antos bada duhur d asrama akhwat :) nuhun #konfirm yh, baik deh”

Fathi langsung konfirm ga bisa karna belum di Bandung, berlanjut yoga yang juga ga bisa cenah mau ke Cisarua sama wawan, halim ga konfirm, kiki juga belum konfirm, angga cape, ulfi ada urusan, kang gofar gamau.. eeaaah semua weh pada ga bisa! Hupt.. uda beli bahan-bahan gini buat berpesta, masa ga jadi? Ntar stroberinya busuk kalo dibesokin. Aah! Galau ajah aku n tehLinda teh.. hmm para ikhwan ini ga asik ah, padahal ada bonus pahala menanti mereka. Sayang sekali sodara-sodara. Tapi tiba-tiba ditengah kegalauan itu kiki akhirnya sms “Sbnrny mw nghumvisit siang ni,tp sklian dr rmh trn @smpang, bleh jga having lunch dlu @jelly party cma ga kan lma kykny. siapa ja yg knfrm? Skrg dah da spa j?”. Alhamdulillah yaah (#syahrini’s style mode on). Dan akupun membalas “konfirm smua ki,kcuali halim. .Tp konfirmny teh pd gabisa tea. .haah ga asik nih mereka oke oke ditunggu iyya bentaran aja da,ngaBisin agar2 n rujak mah skali lahap la yah. .hehe”

Dan sekarang giliran wawan yang sms “Dah spa ja yg dtg?”, waah Alhamdulillah yaah ga Cuma kiki doang yang mau dateng. Singkat cerita, kiki pun datang sedang kita baru mau mulai bikin agar-agar dua lapis. Ya udah aku kasih kue lebaran dulu deh plus buah-buahan yang belum dipotong buat ngerujak. Trus tiba-tiba kiki nyamperin kita ke dapur, waduh waduh.. dan singkat cerita juga akhirnya wawan dateng.. horeee kaka naruto dateng! Trus wawan juga malah ikut-ikutan nyamperin kita ke dapur, trus nanya-nanya “is, ada makanan berat ga is? Lapeur nih”, “ga ada”, jawabku, “paling mie wan, mau mie? Kamu punya mie kan is?”, kata tehLinda teh. “oh iya ada tuh ambil ajah”, kataku, “mana is mienya mana?”, seru wawan antusias. Karna aku lagi sibuk ngaduk agar-agar jelly coklat, jadi ga ngewaro wawan, trus wawannya nagih lagi.. “is mana mienya?”, “iyaa ntar aku bikinin yang spesial deh buat wawan”, kata aku teh. Akhirnya wawan dan kiki pun keluar dari dapur dan kembali asik dengan kesibukan masing-masing, wawan motong buah-buahan, kiki sibuk ngopi foto, sedangkan aku dan tehLinda sibuk menghias agar-agar jeli ini biar cantik kaya kita berdua :).

Singkat cerita agar-agar pun jadi, tinggal nunggu dingin dan mengeras. Selagi nunggu, tehLinda bantuin potong buah-buahan, wawan sibuk nyuci buah-buahan yang udah dipotong, kiki? Masih sibuk ngopi foto-foto yang ada di si Rubby (komputer asrama akhwat), dan aku sibuk beresin dapur. Selesai beresin dapur, aku beranjak ke ruang depan, dan ngajak wawan metik mangga! Yuhuuu.. seru banget kita metik mangga, meskipun cuma ngambil 3 biji doang sih.. soalnya udah ada yang maling mangga sebelumnya kayanya teh. Wawan naik ke pagar dinding sambil bawa sapu dan aku nungguin dibawah pohon mangga buat ngambil mangganya yang jatuh “iih.. wawan jago banget sih kamu wan”, kata aku teh (kagum ceritanya), “biasa maling mangga waktu kecil ini teh”, timpal wawan, hahaha :D. Satu persatu mangga pun jatuh, aku sibuk ngambilin kesana-sini (#lebay), “aduuh.. banyak getahnya euy kena tangan aku”, celetuk aku teh, trus wawan menasehati (#asik) “simpen dulu aja is, bisi kena baju, susah ilang tau getahnya kalo kena baju!”, begitu nasihatnya. “ooh iya yah?”, timpalku seraya beranjak menuju ruang depan untuk menyimpan mangga-mangga itu.

Mangga pun langsung dipotong, “eh is, mana? Katanya mau masakin mie spesial?”, kata wawan. “eh iya lupa! Bentar yah!”, kataku sambil nyari sisa mie yang ada, trus balik lagi ke wawan “mie spesial rasa coklat yah waan?”, seruku. “iih, serius atuh is, masa rasa coklat?”, kata wawan, “kan pancinya bekas jeli coklat ai wawan, hahaha”, celetuk aku. Terus Kiki pun ikut-ikutan minta dibikinin mie, “aku satu ya is”, katanya teh. “oke.. mau yang mana mienya ki?” (sambil nunjukin 3 mie yang tersisa mie indomie rasa soto, mie sedaap rasa soto, dan mie indomie rasa ayam bawang). Singkat cerita kiki pilih mie indomie soto, wawan mie indomie ayam bawang, dan akupun beranjak ke dapur untuk menyentuh si panci dan kompor kembali. 3 menit kemudian, mie siap diangkat, aku bagi ke dua mangkok deh mienya, aga susah sih membagi dua mie dengan sama rata, hoho.. Ini cerita indomie-ku, apa ceritamu?

Selesai masak mie, aku baru kepikiran “ngapain sih aku repot-repot bikinin mereka mie? Kaya ga bisa bikin sendiri ajah”, yaudalayah.. salah sendiri bilang iya ntar aku bikinin mie spesial, aah mulutku tak bisa diajak kompromi nih (;p). aku bawa ke ruang depan deh mienya dan mereka memakannya dengan lahap. Terus wawan iseng masukin jambu air (yang udah di potong-potong buat ngerujak) ke mangkuk mienya kiki, awalnya kiki ngomel tapi jadi ketagihan, dimasukin jambu air lagi deh mienya, ditambah timun juga, dan nyaris menambahkan mangga muda juga, eeah jadi mie salad cenah ceritanya. Singkat cerita, sesi makan mie pun selesai, kini saatnya rujak party..! nyam-nyam-nyam wawan yang paling antusias menyantap buah-buahan dan sambal rujak itu, sampe panas perut cenah, hahaha kasian. Aku makan mangga muda hasil panen wawan, dan rasanya ga manis, ga asem, entahlah.. tak berasa! “iih, mangganya ga asem, ga manis ini mah.. gada rasanya”, celotehku, dari sini muncullah gombalan kiki, saat aku akan melahap kembali mangga muda yang tak berasa itu, kiki manggil “iis”, otomatis aku langsung melirik kiki trus dia senyum sambil bilang gini “manis kan sekarang?”, eeaah gombalan standar, hihihi :”>
CMIIW
#to be continued