Digital clock

Rabu, 07 Mei 2014

Oprec Panitia 1000 Cahaya untuk Indonesia

[OPREC Panitia 1000 Cahaya untuk Indonesia]


Kegiatan Camp 3 hari 2 malam untuk pengembangan karakter keberanian, berbagi, nasionalisme dan mimpi, untuk 1000 anak kecil (Kelas 4-6 SD), yang terdiri dari 750 anak kurang mampu dan 250 dari anak yang berpunya..

Yuk daftar jadi panitia yuk :)

Daftar di http://bit.ly/1000cahaya

Minggu, 02 Februari 2014

Untukmu sang Pemilik Definisi

Andai aku tak indahkan perasaan
Mungkin takkan lagi ada getar-getar rasa dalam tatap mata
Takkan ada pula desir-desir cinta dalam suara

Cinta?
Bahkan aku belum mengerti apa maknanya

Tetapi kamu, disini
Di hati aku, adalah satu-satunya sang pemilik definisi

Ada getar-getar rasa dalam setiap kata
Ada desir-desir rindu dalam sekuntum seru
Ada percik-percik cemburu dalam sekuncup laku
Inikah yang orang sebut cinta?

-Casmi-
Bandung, 26 Oktober 2013

Sabtu, 01 Februari 2014

Merah Marun #part-3



...
Lalu sampailah kami di kampus itu, dengan mendaki bukit dan menerobos perkebunan. Saat mendaki bukit, Gumi mengulurkan tangannya mencoba membantuku naik. Tapi itu cuma bukit kecil Gum! Kamu lebay deh… aku bisa!. Lalu sambil mengulurkan tangannya itu, ia bertanya “bisa ga Ghis?”. Aku langsung menjawab dengan mantap “ya bisa lah!”, sambil menangkis uluran tangannya itu.

Kemudian tembuslah kami ke sebuah mesjid kampus yang cukup besar. Kami bertemu dengan salah satu teman bimbel Gumi disana, Gumi pun menyapa dan mengobrol ria dengannya, dan taukah kalian..? aku di cuekin donk! Hello…?! Seakan-akan dia membawaku terbang ke langit yang begitu tinggi dengan semua perhatian berlebihannya itu, lalu dengan tega menjatuhkanku ke bumi dengan ke tak acuhannya.

Aah… bete juga jadi kambing conge, akhirnya akupun berjalan menyusuri perkebunan itu sendirian, melihat ada pohon jambu, ada jalan menembus ke kelas-kelas, dan ada ruang kosong yang entah ruang apa itu, sepertinya pos satpam yang tak bersatpam.

Setelah bosan dengan petualangan sendiri itu, akupun beranjak menemui Gumi kembali. Dan ternyata dia masih setia mengobrol dengan teman bimbelnya itu. Uuh… bete! Merasa di duakan, heu… kenalin kek! Aku kan jadi geje gini, bingung. Mu ikut nimbrung takut dibilang so kenal, ga menghampiri juga ga tau mu ngapain. Iih… Gumi bebi jahat deh!

Hmm… aku pun memilih untuk kembali bertualang sendiri, sambil sesekali memperhatikan obrolan mereka yang tak jua berakhir. Beberapa saat kemudian obrolan mereka pun usai, lalu Gumi mencariku –yang sepertinya ia baru sadar aku tlah lama hilang dari pandangannya. Akupun menampakkan diri, tak ingin membuatnya berlama-lama mencariku. Lalu kamipun menelusuri semua ruangan disana.

Dari mesjid, kami menuju lapangan, pendopo, tempat parkir, ruang-ruang kelas dan laboraturium semua jurusan, kantin, basecamp tiap himpunan, kolam renang yang sudah tak terpakai, kami benar-benar berkeliling disana. Saat sampai di pendopo, lagi-lagi Gumi menemukan temannya, kali ini teman SMP yang telah lama tak bertemu dengannya. Dan tau apa yang ia lakukan..? yah! Lagi-lagi nyuekin aku!

Aah… ga tau mu ngapain, akupun duduk di teras pendopo itu menjadi kambing conge perbincangan mereka. Tapi tiba-tiba teman SMPnya Gumi itu –menyadari keberadaanku– bertanya “waah…siapa tuh?”, akupun langsung menjulurkan tangan dan dengan manis menyebutkan namaku “Ghisya..”, kataku dengan senyuman agak terpaksa, udah lama di cuekin bo!

Sejurus kemudian wanita itu melirik Gumi, lirikan yang menyiratkan sebuah pertanyaan ‘siapanya kamu sih?’, sesaat setelah lirikan itu berlangsung sekian detik Gumi langsung angkat bicara “temen aku”, sanggahnya takut dicap yang berlebihan. “ah masa? cewenya kali yah?”, ledeknya penuh canda, aku hanya tersenyum kecut, sedangkan Gumi langsung menyanggah “Bukan bukan. Temen ko”, serunya. Lalu mereka melanjutkan perbincangan tentang masa-masa sekolah mereka dulu. Hmmm… sabar Ghis..

Cukup lama aku jadi kambing conge disitu, lalu akhirnya perbincangan selesai ketika salah satu teman dari wanita itu mengajaknya pulang. Uh… akhirnya! Bisa berjalan berdua lagi tanpa ada pengganggu. Plis donk, jangan ada lagi lah temennya! Ga enak dicuekin mulu.

Ya udah deh gapapa, mending dia lebay ajalah daripada harus nyuekin aku lagi. Kami meneruskan perjalanan, kali ini sampailah kami di tempat parkir. Dan disini kami bertemu dengan Topan –teman satu sekolah dulu, syukurnya kali ini bukan hanya temennya Gumi saja tapi temen aku juga. Aku bersalaman dengannya, dan Gumi meminta Topan untuk menjadi guide kami, tapi sepertinya ia tergesa-gesa untuk pulang, jadi kami tetap berjalan-jalan geje berdua disana.

Selang beberapa menit kemudian hapeku bergetar, wah sms dari Topan. ‘ghis maaf ya ga bisa nganter, lagi sakit gigi uy’. Aku hanya bisa tertawa lucu membacanya, dan aku juga sedikit Ge-eR sih.. ternyata Topan masih menyimpan nomor hpku.. huhu bahagianya J.

Kami masih asik berjalan kemana pun kaki ini ingin melangkah, sampailah kami di kolam renang yang sudah tak terpakai, lalu berjalan lagi menuju lapangan olahraga, disana ada yang sedang berlatih basket. Jadi inget masa SMA deh, dulu aku pernah ngecengin anak yang jago maen basket, bukan bukan… bukan Gumi ko! Hehe.. kemudian menuju basecamp himpunan, dan sok-sok’an jadi anak PolBan, lalu kami ke kantin yang terbesar disana ‘pujasera’ namanya, tapi cuma numpang duduk doank dan hotspot-an gratis.

Setelah merasa puas menelusuri hampir semua tempat di PolBan, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebenernya saat sampai PolBan, aku langsung sms temen-temen SMA yang kuliah disini, tapi sayang… semuanya sudah pulang, karena saat itu hanya ada ujian, jadi… aku hanya menikmati jalan-jalan geje itu berdua saja, seru sih… tapi pasti akan lebih seru lagi kalau mereka juga ikut, karena mereka adalah sobat-sobat karib kami sewaktu SMA, jadi berasa nostalgia jika bisa bermain dengan mereka lagi.

Setiap kali kami bermain bersama, Gumi selalu terlihat cuek, autis, kekanak-kanakan, pokoknya dia aneh banget deh, kaya orang gila, hehe… tapi entah kenapa kalau hanya jalan berdua saja denganku –seperti saat ini, sikapnya selalu berbeda. Ia tak lagi autis, meski cuek tapi selalu terlihat care di mataku, itu dulu. Sekarang? Entah mengapa dia begitu lebay menunjukan rasa care-nya itu. Apa karena baju merah marun ini? Entahlah… aku tak mengerti.

Saat pulang juga ia masih begitu perhatian. Menyuruhku berjalan lebih pinggir saat di jalan raya, memegang erat tanganku saat menyebrang, menawarkan aku minuman dan makanan, melepas jaket dan memakaikannya padaku saat hujan –tiba-tiba– turun, dan ia juga mengantarku pulang sampai depan rumah tanpa kuminta (dulu dia gak pernah nganter aku pulang kalau ga aku minta). Kenapa sih dia hari ini? Benar-benar aneh… mungkinkah karena baju merah marun ini..? entahlah…
-end-

Merah Marun #part-2



...
Aku menelusuri jalanan dengan penuh keceriaan, entah akan terjadi hal unik apa kali ini, karena biasanya maen ma Gumi itu slalu saja terkesan unik meski sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi semua itu geje.

Sampailah aku di tempat yang kami janjikan, gor badminton, tapi dia tak ada.. kemana yah..? biasanya dia datang lebih awal kalau janjian mu ketemuan, tapi sekarang ga ada.. apa mungkin dia ngerjain aku..? wah wah… ngga ngga.. ngga mungkin. Se jail-jailnya dia, gakan mungkin tega jailin aku kaya gini. Aha.. tiba-tiba jari-jemariku lihai menari-nari di tuts hape, ku kirimlah sms untuk memastikan keberadaannya, sejurus kemudian ia membalas.

Dari jauh kulihat sosok itu, tubuh proposional itu terlihat begitu gagah. Ia mengenakan pakaian yang senada dengan yang kupakai, entah hal apa yang membuat kami sekompak itu hari ini. Ia memakai baju berwarna merah yang dipadu dengan jaket batik ungunya, lalu celana jeans dan sandal warna hitam. Mirip denganku! Baju sama-sama bernuansa merah, celana sama-sama jeans dan alas kaki sama-sama warna hitam, seperti janjian saja. Sekedar ngasih tau… selama aku maen ma dia, jarang banget dia pake celana jeans panjang kaya sekarang, terlihat beda. Lebih rapi dan kharismatik.

Dan kalian tau apa hal pertama yang ia tanyakan padaku?. Bukan bukan.. bukan menanyakan kabar. Bukan juga menyampaikan salam selamat pagi ataupun berbasa-basi bilang kangen. Bukan! Kata-katanya jauh di luar dugaan. Setelah melempar senyum manisnya dari kejauhan dan melambaikan tangan penuh semangat, dia menghampiriku dan bertanya “ghis… kenapa sih setiap kita maen, baju kamu selalu bagus?”

Apa..?! sungguh to the point. Pertanyaan tak terduga muncul begitu saja dari mulutnya tanpa basa basi –yah… dia memang tak pernah basa basi, selalu spontan mengatakan apa yang memang ingin ia katakan. Spontan juga kukatakan “hah..? iya yah..? masa sih? Emang baju aku selalu bagus yah..? hehe”. “iya”, sahutnya singkat. “ah masa sih?”, tanyaku memastikan. “iya tau! Kaya mu maen kemana aja! Kita kan cuma jalan-jalan geje doank”

Aku diam sejenak. Emang iya yah..? hmm… ku putar kembali memori otakku, mengenang saat-saat bermain dengannya beberapa hari lalu, hmm.. kalo dipikir-pikir baju yang aku pake emang selalu bagus sih… tapi… ya… emang cuma itu yang aku bawa ke rumah, mu gimana lagi coba?.

“ah masa sih..? engga ah!”, sanggahku. “oh ngga yah..? ya udah”, jawabnya pasrah. Lha..? ni anak kenapa coba? Ga jelas!. “baju aku emang cuma sedikit yang dibawa ke rumah, Gum! Lagian ini baju kemaren, hehe. Trus celana ini juga yang slalu aku pake tiap maen ma kamu”, kataku menjelaskan, agar ia tak salah sangka dengan baju-baju cantikku yang slalu ku kenakan.

“aku juga pake celana ini terus ko”, katanya mengalihkan. Seketika itu, aku langsung menyanggahnya “ah ngga ah! kemaren ga pake yang ini”, kataku santai. “o iya yah..? hehe”, jawabnya simple. Beuh… ni anak kenapa siih..?.

Kamipun menelusuri kembali jalanan menuju tempat yang sebenernya aku ga tau mu kemana. Dan saat itu kita cuma berduaan doank maennya, biasanya bertiga ma Derby. Tapi karena Derby masih UAS jadi kita berdua ajah. Sepanjang perjalanan kami bercerita banyak hal, yaahh… seperti biasa kalau sesi ngobrol-ngobrol kaya gini, biasanya dia lebih cerewet dari aku, dia yang paling banyak cerita tentang apapun yang ingin dia ceritakan, dan aku selalu saja hanya menjadi pendengar setianya.

Ketika dia kehabisan cerita, baru nanya-nanya dan nyuruh aku yang cerita. Banyak sebenarnya yang pengen aku certain, tapi entah kenapa selalu speechless kalo disuruh cerita ma dia.. haha… takut terkalahkan cerewetnya kali yah… atau karena terlalu banyaknya yang ingin diceritain, jadi bingung mu mulai darimana, hmm.. atau mungkin grogi kali yah…? Hahaha… ga tau deh… pokoknya aku cuma ngomong kalau dia melayangkan pertanyaan doank, dan biasanya jawaban aku juga simple ga bertele-tele. Entahlah… sepertinya jadi pertanyaan “yang mana yang cewe, yang mana yang cowo sih?”.. hehe

Setelah melewati setengah perjalanan, aku akhirnya sadar sebenernya kita mu ke mana. PolBan (Politeknik Bandung), salah satu kampus yang berada tak jauh dari rumah kami, itulah ternyata tujuan akhir perjalanan kami.

Sepanjang perjalanan, aku merasakan sikap yang berbeda darinya, entah mengapa ia begitu perhatian kali ini. Seolah aku anak kecil yang baru belajar berjalan, dan ia menjadi seorang ayah yang selalu memperhatikan gerak-gerik peningkatan sang anak dan berusaha semaksimal mungkin menolong sang anak ketika hampir terjatuh. Ah entahlah… kurasa sikapnya terlalu berlebihan. Ia terlalu menunjukan perhatian, berbeda dengan biasanya yang selalu cuek –meski aku tau ia memperhatikan dibalik kecuekannya itu.

Kami melewati jalan raya, ia selalu menyamakan langkahnya denganku, berjalan di samping kananku agar tak ada satupun kendaraan yang bisa menyerempetku. (padahal dulu, ia selalu berjalan di depanku, tak peduli keberadaanku yang kesepian berada dibelakangnya). Saat mendaki bukit kecil menuju kampus itu, ia berhenti sejenak, memperhatikanku, menungguku sampai di puncak bukit, dan memastikan keselamatanku. (dulu ga kaya gitu! Sepanjang jalan, dia ga pernah nengok sedikitpun ke belakang).

Trus waktu meloncati bebatuan, menyebrang jalan, berjalan di pinggir jalan raya, ia selalu memperhatikanku. Sebenarnya ada apa dengannya hari ini? Dia terlalu lebay… apa aku selemah itu?. Dulu ku akui selalu ingin diperhatikan seperti itu, sehingga selalu berusaha mengundang perhatiannya dengan menarik-narik tasnya, memanggilnya, mencoba mengimbangi langkah panjangnya, aku juga suka memintanya membantuku menyebrang, karena dulu aku begitu takut menyebrang.

Waah.. apa aku begitu lemah dimatanya? Dulu.. mungkin aku memang lemah, tapi sekarang ngga Gum!! Aku anak teknik lho! Aku kuat! Aku berani! Aku udah ga selemah dulu waktu SMA –yang sama ulet aja takut. Aku udah berubah Gumi bebi…
-to be continued-

Merah Marun #part-1



Pagi itu.. aku bangun lebih pagi dari biasanya, entah apa yang membuatku akhirnya bisa bangun sepagi itu di hari libur –yang selalu seharian kuhabiskan di rumah. Hanya bermain dengan keponakan-keponakan kecilku yang menggemaskan, tidur, nonton tv, yaah.. liburan seolah menjadi ladang bermalas-malas diri, seolah menjadi jam istirahat yang terakumulasi dari hari-hari kerja yang slalu melelahkan.

Bangun tidur, aku tergerak untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri (read : mandi). Mandi pagi..? haha.. entah angin apa yang menggerakanku untuk melakukannya, padahal biasanya di hari libur seperti ini aku paling malas untuk mandi. Hanya mandi ketika akan pergi-pergian saja, sedangkan hari itu aku tak berniat pergi kemanapun tapi seolah ada hal lain yang tiba-tiba menggerakan gayung berisi air untuk melumuri diri ini begitu saja.         

Selesai mandi, aku berniat untuk bersantai dengan masker bengkoang. Kusiapkan mentimun untuk menutupi mata –besar coklat indah– ku, mentimun yang begitu segar, lalu kusiapkan pula sleeping bag, tape-recorder juga kaset lagu-lagu klasik yang akan mengiringi ritual maskeranku pagi itu. Setelah siap semua peralatan, akupun keluar menuju balkon –kebetulan kamarku (yang kini jadi milik keponakanku) ada dilantai dua– dan menggelar bed cover tersebut tepat di posisi yang begitu nyaman, terkena sinar mentari pagi yang menyehatkan, mengubah pro-vitamin D menjadi vitamin D.. itu yang slalu ku ingat tentang mentari pagi J

Dengan seketika, berpindahlah semua peralatan ritual maskeranku dari kamar ke balkon. Bersiap untuk berbaring, hmm… pelan-pelan ku rebahkan diri ini di atas bed cover yang begitu lembut dan wangi –kebetulan baru di laundry kemaren.. hehe– “oow.. ada yang lupa!”, akupun kembali ke kamar. Kalian tau apa yang kulupakan..? aku lupa mengganti air di vas bunga –sedap malam–ku. Akupun mengganti air di vas, lalu kucium bunga kesayanganku itu, hmm… wangi… tak lama kemudian tiba-tiba kudengar hapeku berbunyi.. waah… ada sms!
Perlahan kulihat layar hapeku dan seketika itu pula aku tersenyum girang melihat nama yang tertera di layar, ‘gumi bebi’. Waah… akhirnya anak itu sms juga! Heu… bahagianya.. tanpa ragu, akupun langsung membaca pesan singkatnya itu, sangat singkat –seperti biasa.

‘ghis dimana? jalan2 yu’
(tanpa berpikir panjang cepat-cepat ku gerakan jemari ini untuk membalas pesannya)
“Hayu hayu! Lg d rumah.. mu kMna emg?”
Beberapa detik kemudian hapeku bunyi lagi
‘jalan2 aja, k 15,poltekpos mungkin polban gimana?’

Hahaha… entah mengapa saat baca smsnya itu aku tertawa.. terbayang wajahnya yang lucu mengekspresikan ajakannya itu. Dia sungguh satu-satunya orang yang mudah mengubah perasaan galauku jadi ceria. Namanya Gumi Fadhil Putera, teman SMA ku yang dijuluki si anak autis.

Gumi orang yang sangat berarti buatku, dia yang mengajarkanku arti persahabatan, membawaku ke dunia out of the box, memperkenalkanku dengan dunia petualangan, sangat mewarnai kanvas-kanvas kehidupanku! Bahkan kadang membuatku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Ia banyak memberikan pengalaman dan ilmu baru buatku, sang motivator juga buatku, sosok yang luar biasa buatku meskipun aneh dan selalu terlihat cuek. Selintas terlihat jelas raut wajahnya yang konyol itu di pikiranku.

Lalu kubalas lagi pesannya.
“haha. .hayu hayu. .skrg jg nh?”

Beberapa detik kemudian belum ada balasan darinya, cukup lama aku menunggu. Dengan penuh rasa girang, aku membereskan segala peralatan yang sudah kusiapkan untuk ritual maskeran itu. Memutuskan untuk memilih bermain bersamanya daripada mengurus kulit mukaku yang sudah tak seputih dulu itu.

Sejak aku main sama gumi bebi –itu panggilanku untuknya– aku tak pernah lagi memperhatikan penampilan, tak peduli sehitam apa wajah ini, sejelek apa penampilanku ketika bermain dengannya, aku benar-benar tak peduli sekalipun harus memakai piyama untuk bermain dengannya.

Selang beberapa detik kemudian, hapeku pun berbunyi lagi, waah.. pasti balesan dari gumi bebi deh.. dan ternyata memang benar
‘ayo deh, ktmu d gor ya, jgn ad apa2 lg ya, lsung brangkat oke, ak tinggal pake clana da hehe’
“Iya sitU tingGal pke clana. .Gw blum pake bju,clana n krudung mas. .oke oke. .10 menit lagi la yah. .”
Lama tak ada balasan darinya, hupt… sudah kuduga sebelumnya pasti ga akan di balas. Dia kan cuek. Haha.. akhirnya akupun bersiap-siap untuk pergi.

Ku ambil baju merah marun dan kerudung senada yang belum ku cuci, baju bekas kemarin.. hehe (maklum ga ada baju lagi, soalnya baju-baju yang kubawa ke rumah untuk liburan hanya sedikit, sisanya ada di kost-an). Lalu ku ambil pula celana jeans yang biasa kupakai ketika main dengannya, ini juga belum dicuci.. haha, maklum… satu-satunya celana yang aku bawa ke rumah.

Setelah sempurna mengenakan baju merah marun, celana jeans dan kerudung yang senada dengan bajunya itu, akupun beranjak keluar kamar dan menyambar tas coklat kecil yang kutaruh di atas lemari baju ponakanku. Akupun mematut-matutkan diri di cermin… hmm cantik! Baju merah marun ini emang cocok dikenakan olehku.. haha narsis!.

Usai bercermin, buru-buru aku menuruni tangga dan mencari sepatu hitamku yang baru saja kucuci, lalu akupun pamit ke bunda dan langsung pergi tanpa mengiyakan pesan bunda yang selalu saja bilang “jangan malem-malem yah pulangnya”. Bosan mendengar kalimat itu setiap aku pergi.

-to be continued-

JAM TANGAN (25 April 2011) #part-3

...

Aku merasakan diriku yang semakin oleng dan mual. Bahkan tubuh ini rasanya sudah benar-benar tidak duduk tegak lagi, total sudah kepala dan tubuhku jatuh kepelukan orang yang ada disampingku, Gumi! Huh.. “plis Gum ga lucu.. gue pusing deh serius..”, kataku memohon. Disebrang sana kudengar Dera pun membelaku “udah Gum, kasian tuh Ghisya.. gimana kalo dia muntah hayoh..? kamu mau ngurus apah??”. 

Mungkin melihat aku yang semakin oleng, akhirnya Gumi mulai menghentikan putaran komedinya. Sedikit demi sedikit komedi ini mulai berputar sewajarnya, semakin pelan, pelan, dan pelan. Namun aku masih oleng! Aku mabuk rasanya..! huhu.. kepala dan tubuhku masih tepat tersandar di dadanya yang bidang. 

Menyadari hal itu, akhirnya Gumi benar-benar menghentikan putaran komedinya dan membiarkan aku sejenak bersandar lebih lama di dadanya yang bidang untuk menghilangkan rasa pusing, mual dan keolenganku. Dan tanpa kuduga hal buruk terjadi. Kalian tahu apa..? aku muntah! Huaah… malu! Takut Gumi marah juga dan ngambek berkepanjangan karna baju yang ia kenakan kini penuh dengan muntahanku. Maafin aku Gum..

Aku tak mampu berkata-kata, muka ini sepertinya mulai memerah (terasa dari mulai memanasnya), pangkal tenggorokanku seolah tercekat, mata mulai berair dan mulut berusaha mengucap kata maaf. “maafin aku Gum..”, permintaan maaf yang lebih mirip sebuah bisikan. Dan yang tak kusangka adalah.. Gumi masih duduk disampingku dan malah ia yang meminta maaf. Tanpa memikirkan bajunya yang penuh muntahku itu, ia langsung memegang mukaku dengan kedua tangan besar lembutnya itu, “maafin gue Ghis.. lo gapapa kan..? ya ampuun”, tuturnya penuh kecemasan. 

Lalu ia mengusap air mataku dengan tissue pemberian Dera (Dera bela-belain lari-lari nyari tissue untuk melap mulutku dan muntahanku di bajunya Gumi), dan juga mengusap sisa muntahan di mulutku dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kenyataan, kulihat sosok Gumi yang berbeda, tak lagi kekanakkan. Ia terlihat begitu mengkhawatirkan keadaanku. “maafin gue ya Ghis..”, kalimat itu kembali terucap dari mulutnya penuh penyesalan. 

“Der, duduk dulu sini jagain Ghisya. Gue mu telpon sopir gue dulu buat jemput kita disini oke?”, pinta Gumi pada Dera. Dera menyanggupi, lalu dengan sabar ia pun mengusap dengan lembut mulutku yang masih belepotan. Juga mengelap komedi putar yang kini kotor oleh muntahanku.

Sejurus kemudian, Gumi kembali dengan membawa air mineral. Lalu duduk disampingku, membuka tutup botolnya dan membantuku minum. “udah baikan kan Ghis..?”, tanyanya yang juga masih terlihat gurat kecemasannya itu. Aku hanya mampu tersenyum dan berkata “lumayan”. “masih pusing..?”, tanyanya lagi. Ku jawab dengan anggukan. “mual..?”, tanyanya lagi, kali ini kujawab dengan senyuman. “maafin gue..”, sesalnya. 

‘Tidiiit tiiiiiiiiit tiiiiiiiit..’, suara klakson mobil Gumi mengagetkan kami, “Alhamdulillah mobil gue dateng tuh. Ayo Der, Ghis.”, ajaknya sambil merangkulkan tangan kananku ke pundaknya dan tanpa komando Dera pun melakukan hal yang sama. Ia merangkulkan tangan kiriku ke pundaknya. Lalu kami berjalan beriringan.

Aroma khas parfum Gumi langsung tercium begitu sang sopir membukakan pintu mobil belakangnya. Aku pun duduk di belakang bersama Dera, Gumi duduk di depan bersama sang sopir. Kemudian Gumi menyodorkan minyak angin pada Dera. Seolah tahu maksud Gumi, Dera langsung menyuruhku tidur berbantalkan pahanya. Ia memijit lembut kedua pelipisku dengan minyak angin yang Gumi berikan itu, lalu menumpahkan beberapa tetes ke telapak tanganku dan menyuruhku mengoleskannya ke perut, katanya untuk menghilangkan rasa mual. 

Aku terharu dengan semua perhatian ini. Huhu.. makasih Der.. makasih Gum.. love u all. Aku berbaring di pangkuan Dera cukup lama, waah.. ia memang benar-benar kebapakan, bisa membuatku begitu nyaman berbaring di pahanya. Dari bawah sini aku bisa memandang wajah Dera yang lembut itu lebih jelas, aku memandangnya cukup lama, entah mengapa rasa sejuk langsung menyergap saat memandangnya. “Ghis.. udah baikan kan..? ga usah ngagumin aku ampe segitunya kali..”, ucap Dera dengan senyum usilnya (ketularan Gumi nih). 

Seketika aku langsung mengubah posisiku, yang asalnya tiduran langsung duduk.. aku udah baikan.. udah ga pusing lagi! Udah ga mual lagi.. waah.. makasih Dera.. makasih Gumi..
“iih apaan sih Der..? lo ketularan Gumi nih”, seruku manja sambil memukul pelan lengannya. Dera hanya menanggapi dengan senyuman. “ciie yang udah sembuh..”, timpal Gumi tiba-tiba sambil melirik ke belakang dan tersenyum jail. “iya.. makasih ya Gum.. Der..”, seruku. “hmm.. tapi baju gue lo yang nyuci yah..!”, timpal Gumi yang mengundang tawa kita bersama. 

Tawa mereda. “eh gue serius lho Ghis! Hahaha”. “oke”, jawabku manyun.

Beberapa menit kemudian, sampailah kami di rumah Gumi. Gumi langsung mengajak kami ke ruang makan, karena di ruang tengah sedang ada tamu dari luar kota (rekan kerja ayah dan ibunya). Gumi merangkulku dan mengajakku melihat lemari es, lalu ia mengambil satu gelas minuman berwarna putih, terlihat seperti susu tapi di atasnya terdapat krim, kemudian mengambil sendok (tanpa melepaskan rangkulan tangannya dari pundakku) dan menyuapiku krim dari minuman itu. “enak ga..?”, tanyanya. “hmm.. enak enak!”, seruku girang. (aku baru kali ini lho di suapin cowo! Ahaha :D ,apalagi ini Gumi yang nyuapin, gimana mungkin rasa minuman itu ga enak?). 

Dera yang sejak tadi hanya memperhatikan dari tempat duduknya –yang tak jauh dari lemari es langsung bertanya “apaan sih Gum..? bagi donk”. “nih tangkap!”, seru Gumi sambil melempar minuman itu “susu kambing”, lanjutnya. What..? Oh My God jadi yang gue makan tadi itu krim susu kambing..? ya ampuun iyuuuh.. aku ga suka kambing! Kambing itu bau! Tapi kok krimnya enak banget yah..? apa karna gara-gara disuapin Gumi? Atau emang rasanya yang enak?

“ooh.. kirain apaan. Ngga jadi deh! Susu murni aja gue ga kuat baunya, apalagi susu kambing.. hmm ga jadi deh makasih”, seru Dera. “iih cobain dulu! Ga bau kok..! krimnya enak tau!”, timpal Gumi “iya kan Ghis..?”, lanjutnya sambil berpaling padaku meminta jawaban. Aku hanya bisa mengangguk. Hey.. aku aja masih kaget! Ini susu kambing, aku kan ga suka kambing! Heu.. tapi emang enak sih.. 

“Nih coba dulu Der..!”, seruku kali ini sambil menyodorkan satu sendok krim susu kambing –bermaksud menyuapinya seperti yang Gumi lakukan padaku. Dera yang bersiap membuka mulut, ternyata terdahului oleh tangan Gumi yang seketika langsung memegang tanganku dan menyuapkan krim di tanganku itu ke mulutnya. “eh sialan lu Gum”, seru Dera. “hahaha…”, dengan tawa yang khas Gumi tega menertawakan Dera yang kini berkutit mencari sendok untuk mencoba krim itu sendiri. Yah.. Gumi kembali ke sikap kekanakkannya.

“ngiung ngiung ngiung… pesawat terbang mau masuk goa… ayo buka goanya.. ‘AAAAA”, seru Gumi sambil menyodorkan sendok berisi krim susu kambing itu ke mulutku. Aku yang tersipu melihat kekonyolannya langsung membuka mulut, tapi apa yang dia lakukan..? “aam.. nyam nyam nyam..”, katanya sambil memakan krim itu. Sial! Dia nipu aku! “hahaha.. Ghisya ketipu..”, serunya girang. Ckckck Gumi.. Gumi.. 

Lalu aku pura-pura ngambek. “waah.. jangan manyun gitu donk..! ya ampuun mpe segitunya pengen di suapin ma aku..”, katanya ke’geer’an. “nih nih ‘AAA buka mulutnya Ghisyaku sayang”, bujuknya. “ga mau!”, seruku singkat. “aku mau disuapin Dera ajah..! huh! Dera suapin aku donk!”, pintaku pada Dera. “iih.. Ghisya mah ambekan ah.. ini atu nih.. ‘AA buka mulutnya…”, serunya ga mau kalah. Akupun membuka mulutku dan sesuap lagi krim yang enak itu masuk ke mulut ku.. yeahhh.. enaaaaaak banget!

Selesai bermain dengan krim susu kambing, keheningan mulai menyergap. Lama hening.. dan tiba-tiba perkataan Gumi mengubah suasana. “gue jadi pengen ulang tahun deh.. biar di kasih jam tangan sama Ghisya”, tuturnya tanpa memandangku ataupun Dera. Waaah.. maafin aku Gum..

-end-